Komunikasi Terbaik adalah Dengan Tuhanmu

Temukan Tuhanmu dan kenalilah dengan baik.

Sahabat Terbaik

Ia hadir untuk membersamaimu melukis kehidupan

Now its time for the future

We left the past behind

You're my girl

as long as I life

Friday, March 22, 2019

Komunikasi Interpersonal | Teori dan Elemen


Seluruh manusia pasti berkomunikasi dalam kehidupan sehari-harinya. Komunikasi diperlukan sebagai penghubung antar individu dengan individu lainnya. Dengan berkomunikasi, manusia dapat menyampaikan pesan dan menerima informasi.
Dalam komunikasi, khususnya komunikasi antar pribadi memerlukan beberapa teori sebagai hakikat kita dalam berkomunikasi agar terjadi berlangsungnya komunikasi yang tertata dengan benar.
·         G.R Miller dan M. Steinberg (1975):  Komunikasi interpersonal dapat dipandang sebagai komunikasi yang terjadi dalam suatu hubungan interpersonal.
·         Judy C. Pearson, dkk (2011) : Komunikasi interpersonal sebagai proses yang menggunakan pesan-pesan untuk mencapai kesamaan makna antara-paling tidak-antara dua orang dalam sebuah situasi yang memungkinkan adanya kesempatan yang sama bagi pembicara dan pendengar.
·         Joseph A. DeVito (2013) : Komunikasi interpersonal adalah interaksi verbal dan nonverbal antara dua (atau kadang-kadang lebih dari dua) orang yang saling tergantung satu sama lain.
·         Ronald B. Adler, dkk (2009) : Komunikasi interpersonal adalah semua komunikasi antara dua orang atau secara kontekstual komunikasi interpersonal.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan dalam suatu hubungan interpersonal antara dua orang atau lebih, baik secara verbal maupun nonverbal, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan makna.
ELEMEN-ELEMEN DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL
    1.        Sumber – Penerima (Source – Receiver)
Komunikasi interpersonal melibatkan paling tidak dua orang dimana masing-masing pihak dapat berperan sebagai sumber (source) yakni membentuk dan mengirimkan pesan dan juga berperan sebagai penerima (receiver) yakni menerima pesan.
    2.        Pesan (Message)
Pesan merupakan sinyal yang dipandang sebagai stimuli atau rangsangan bagi penerima pesan dan diterima oleh salah satu indera manusia atau kombinasi dari beberapa indera manusia. Dengan kata lain, dalam komunikasi tatap muka, kita mengirim dan menerima pesan melalui lima panca indera yang kita miliki. Kita menegosiasikan makna yang kita peroleh dari komunikasi interpersonal melalui pengiriman dan penerimaan pesan verbal dan pesan nonverbal.

    3.        Encoding – Decoding
Yang dimaksud dengan encoding adalah tindakan memproduksi pesan seperti menulis dan berbicara. Sementara itu, yang dimaksud dengan decoding adalah tindakan memahami pesan seperti mendengar atau membaca.
    4.        Media (Channel)
Yang dimaksud dengan channel adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang menghubungkan sumber dan penerima. Dalam komunikasi tatap muka, kita mengirim dan menerima pesan melalui lima panca indera yang kita miliki.
    5.        Gangguan (Noise)
Secara teknis, gangguan atau noise adalah segala sesuatu yang mendistorsi sebuah pesan. Atau hal-hal yang mencegah penerima menerima sebuah pesan. Gangguan atau noisedalam suatu komunikasi dapat juga disebut sebagai hambatan-hambatan komunikasi.Terdapat beberapa jenis gangguan, yaitu gangguan semantik, gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan intelektual, dan gangguan lingkungan.
    6.        Umpan Balik (Feedback)
Umpan balik atau feedback adalah informasi yang kita terima sebagai bentuk respon terhadap pesan yang telah kita kirimkan. Umpan balik dapat berupa umpan balik verbal maupun umpan balik nonverbal, umpan balik positif atau umpan balik negatif, dan lain sebagainya.
    7.        Konteks (Context)
Suatu komunikasi selalu berlangsung dalam sebuah konteks atau lingkungan yang mempengaruhi bentuk dan isi pesan yang akan disampaikan. Selain itu, konteks lingkungan dan konteks situasi atau budaya dimana komunikasi terjadi juga dapat mempengaruhi keluaran atau efek yang dihasilkan. Konteks lingkungan dapat berupa lokasi fisik dimana interaksi terjadi. Sementara itu, yang termasuk dalam konteks situasi atau konteks budaya adalah ruang hidup atau latar belakang budaya dari masing-masing partisipan komunikasi.
    8.        Etika (Ethics)
Komunikasi selalu memiliki konsekuensi oleh karena itu dalam berkomunikasi selalu melibatkan etika komunikasi. Begitu pula dalam konteks komunikasi interpersonal. Setiap tindakan komunikasi memiliki dimensi moral, apa yang benar dan apa yang salah.


SIFAT-SIFAT KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Menurut Joseph A. DeVito (2013), komunikasi interpersonal memiliki beberapa sifat, yaitu :
·         Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang melibatkan dua individu atau lebih yang masing-masing saling bergantung.
·         Komunikasi interpersonal adalah secara inheren bersifat relasional.
·         Komunikasi interpersonal berada pada sebuah rangkaian kesatuan.
·         Komunikasi interpersonal melibatkan pesan verbal maupun pesan nonverbal.
·         Komunikasi interpersonal berlangsung dalam berbagai bentuk.
·         Komunikasi interpersonal melibatkan berbagai pilihan.

PRINSIP – PRINSIP DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Menurut Joseph A. DeVito (2013), prinsip-prinsip komunikasi interspersonal adalah sebagai berikut :
1.    Komunikasi interpersonal adalah suatu proses transaksional. Komunikasi interpersonal adalah sebuah proses, atau kejadian yang berkelanjutan, dimana masing-masing elemen saling bergantung satu sama lain. Komunikasi interpersonal secara konstan terus terjadi dan mengalami perubahan. Agar dapat memahami gambaran komunikasi interpersonal sebagai proses transaksional maka model komunikasi transaksional dapat menjadi jawabannya.
2.    Komunikasi interpersonal memiliki tujuan. Komunikasi interpersonal memiliki 5 (lima) tujuan, yaitu untuk :
o    Belajar – komunikasi interpersonal membuat kita dapat belajar memahami orang lain dan dunia secara lebih baik.
o    Membina hubungan – komunikasi interpersonal membantu kita untuk berhubungan dengan orang lain.
o    Mempengaruhi – melalui komunikasi interpersonal kita dapat mempengaruhi sikap dan perilaku orang lain.
o    Bermain – komunikasi interpersonal dapat berfungsi sebagai kegiatan bermain.
o    Membantu – melalui komunikasi interpersonal seorang terapis menggunakan teknik penyebuhan jiwa yang dikenal dengan metode komunikasi terapeutik dalam keperawatan.
3.    Komunikasi interpersonal adalah ambigu. Semua pesan-pesan berpotensi ambigu, masing-masing orang akan memberikan makna yang berbeda terhadap pesan yang sama. Terdapat ambiguitas dalam semua hubungan.
4.    Hubungan interpersonal dapat berbentuk simetris atau komplementer. Interaksi interpersonal dapat merangsang pola perilaku yang sama atau berbeda.
5.    Komunikasi interpersonal merujuk pada isi dan hubungan diantara para partisipan. Dalam sistem komunikasi interpersonal, hubungan interpersonal memegang peranan yang sangat penting karena hubungan interpersonal yang baik merupakan penanda bagi komunikasi yang efektif.
6.    Komunikasi interpersonal adalah dapat diberi tanda atau ditandai karenanya setiap orang memisahkan bagian-bagian komunikasi ke dalam stimuli atau rangsangan dan respon terhadap perspektif dasar yang dimiliki oleh masing-masing partisipan.
7.    Komunikasi interpersonal tidak dapat dihindari, tidak dapat diulang, dan tidak dapat diubah. Ketika berada dalam sebuah situasi interpersonal, kita tidak dapat tidak berkomunikasi, dan kita tidak dapat mengulang secara tepat sebuah pesan secara spesifik.

TEORI KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Berikut beberapa teori komunikasi interpersonal sebagaimana dirumuskan oleh para ahli, diantaranya adalah :
1.    Constructivism – kerangka kerja teoritis yang berupaya untuk menjelaskan mengapa individu berkomunikasi dengan cara yang mereka lakukan dan mengapa beberapa komunikator lebih sukses dibanding yang lainnya. Konstruktivisme dikenalkan oleh Jesse Delia.
2.    Symbolic interactionism atau interaksionisme simbolik atau teori interaksi simbolik – sebuah perspektif sosiologi yang dipengaruhi oleh banyak ahli teori yaitu George Herbert Mead danHerbert Blumer. Interaksionisme simbolik pada dasarnya menggambarkan bagaimana individu menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk membentuk makna, bagaimana mereka menciptakan dan menyajikan dirinya sendiri, serta bagaimana ketika mereka berinteraksi dengan orang lain menggunakan simbol-simbol untuk membentuk masyarakat.
3.    Attribution Theory – sebuah kerangka kerja untuk memahami bagaimana masing-masing individu menginterpretasikan perilaku mereka sendiri dan perilaku orang lain. Menurut Fritz Heider, manusia termotivasi untuk memahami perilaku dan menjelaskan pola perilaku.
4.    Fundamental interpersonal relationship orientation theory – teori yang dikenalkan oleh William Schutz ini berpendapat bahwa orang termotivasi untuk memenuhi tiga kebutuhan yaitu inklusi (kebutuhan merasa dimiliki), kontrol (kebutuhan untuk membentuk interaksi dengan orang lain), dan afeksi (kebutuhan untuk disukai dan menjalin hubungan). (baca: Komunikasi Pembangunan)
5.    Action assembly theory – teori yang dikenalkan oleh John Green ini berusaha untuk menjelaskan dari mana pikiran kita datang dan bagaimana kita mengartikan berbagai macam pikiran tersebut ke dalam komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal.
6.    Communication accommodation theory – teori yang dikembangkan oleh Howard Giles dkk ini menitikberatkan pada bagaimana dan mengapa orang memodifikasi atau mengubah perilaku komunikasi mereka dalam situasi yang berbeda. (baca: Komunikasi Internasional)
7.    Social penetration theory – teori yang digagas oleh Irving Altman dan Dalmas Taylormenggambarkan bagaimana self-disclosure menggerakan hubungan dari superfisial ke intim. Ini adalah teori pertama yang mengkaji tentang bagaimana perubahan dalam pola komunikasi dapat berdampak pada perubahan dalam hubungan. (baca: Psikologi Komunikasi)
8.    The relationship development model – teori yang dikenalkan oleh Mark Knapp menyajikan sepuluh tahapan model hubungan yang dapat menyatukan atau bahkan terpisah. Setiap tahapan bercirikan pola komunikasi yang berbeda.
MANFAAT MEMPELAJARI KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Mempelajari komunikasi interpersonal dapat memberikan manfaat, diantaranya adalah :
·         Dapat mendatangkan manfaat intelektual termasuk didalamnya pemahaman yang mendalam terhadap diri dan orang lain serta hubungan interpersonal.
·         Dapat memberikan manfaat praktis termasuk didalamnya pribadi, sosial atau hubungan, dan profesional.
·         Komunikasi interpersonal sangat penting bagi kita secara fisik. Mereka yang memiliki hubungan interpersonal yang baik lebih sehat secara mental dan fisik.
·         Komunikasi interpersonal membantu kita memenuhi kebutuhan sosial kita. Dengan memahami proses komunikasi interpersonal akan memberikan pandangan terhadap bagaimana suatu hubungan dapat menjadi lebih sukes dan memuaskan.
·         Melalui penelitian komunikasi interpersonal dapat membuat kita berpikir bahwa kita berkomunikasi dalam suatu hubungan dan menyadari bahwa secara aktual berkomunikasi dalam suatu hubungan adalah sangat berbeda.












Manajemen Isu Dan Opini Publik | Proses Manajemen Krisis


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Seiring dengan kemajuan teknologi, industri media massa menjadi semakin beragam dan persaingan di antara mereka menjadi semakin ketat dalam memperoleh berita yang sensasional. Sudah menjadi rahasia umum bahwa biasanya berita yang menjadi topik hangat adalah berita yang mengandung suatu masalah yang kontroversial ataupun hal-hal buruk yang sedang menimpa seorang tokoh, sebuah organisasi/perusahaan hingga sebuah negara. Terutama bila isu yang muncul tersebut memiliki dampak tertentu (biasanya dampak yang buruk) pada masyarakat luas. Semakin hangat topik tersebut dibicarakan publik, semakin giat para wartawan menggali topik tersebut dan mengejar-ngejar para nara sumber.


Setiap perusahaan atau organisasi tidak dapat dilepaskan dari masalah ataupun konflik yang dapat memicu terjadinya krisis. Sayangnya seringkali pihak manajemen baru menyadari saat konflik telah berubah menjadi krisis yang kronis. Karena itu sangat penting bagi sebuah organisasi untuk melakukan tindakan pencegahan.
Saat krisis semakin bergulir, seringkali informasi yang berkembang menjadi simpang siur dan semakin tak terkendali, bahkan menjadi isu panas yang dapat mempengaruhi opini publik terhadap organisasi. Karena itu organisasi harus segera melakukan manajemen isu sehingga krisis yang ada tidak semakin larut dan berkepanjangan.
Istilah manajemen isu sendiri merupakan salah satu bagian penting dalam aktivitas public relations. Melihat pada konteks definisi public yang seringkali digunakan, diantaranya menurut Scott M. Cutlip, Allen H. Center, Glen M. Broom, “Public relation smerupakan fungsi manajemen yang membentuk dan memelihara hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dan masyarakat, yang menjadi sandaran keberhasilan atau kegagalannya”.
 Maka dari kedua konsep singkat tersebut public relations sendiri  Sebagai fungsi manajemen dipandang bertanggung jawab dalam memelihara reputasi positif organisasi atau perusahaan. Dalam konteks manajemen isu dan manajemen krisis public relations mengembangkan komunikasi dua arah antara perusahaan dan publik yang dianggap penting untuk menciptakan dan mempertahankan goodwill dan mutual understandingpublik terhadap tujuan, kebijakan, dan kegiatan perusahaan. Dalam hal ini, public relations menggunakan pendekatan pendekatan komunikasi untuk mengelola berbagai isu yang mengarah pada krisis, dengan berusaha membangun saling pengertian atau mutual understanding dengan publik.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang serta identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Mengapa manajemen isu penting dengan  reputasi perusahaan atau organisasi?
2.      Bagaimana proses manajemen krisis dan pendekatan manajemen isu?

C.    Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan penelitian di atas, maka tujuan penelitiannya adalah:
1.      Untuk mengetahui mengapa manajemen isu penting dengan  reputasi perusahaan atau organisasi.
2.      Untuk mengetahui bagaimana proses manajemen krisis dan pendekatan manajemen isu.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pentingnya Manajemen Isu & Hubungannya dengan Reputasi Organisasi /Perusahaan
Setiap perusahaan atau organisasi tentunya selalu berharap memiliki reputasi yang baik dan  positif. Memiliki reputasi positif berarti peluang perusahaan untuk memenangkan hati publik akan semakin besar. Di mata konsumen misalnya, produk atau jasa dari perusahaan dengan reputasi baik cenderung akan lebih dipilih dibandingkan perusahaan dengan reputasi sebaliknya. Kita mungkin masih teringat beberapa tahun silam ketika salah satu anak perusahaan Bakrie, PT Lapindo,  yang beroperasi di lapangan pengeboran minyak dan gas di  Sidoarjo dianggap dengan ceroboh melakukan pencemaran dan perusakan lingkungan, hingga sekarang sebagian besar publik memandang Lapindo sebagai salah satu perusahaan dengan track record yang tidak etis, tidak memiliki tanggungjawab moral dan sosial. Yang dihadapi perusahaan tak kurang setidaknya boikot dari organisasi pecinta lingkungan dan terutama dari komunitas setempat serta yang terburuk adalah ekpose media massa yang demikian gencar yang semakin memperburuk reputasi Lapindo.bahkan Grup Bakrie sebagai induk Lapindo juga ikut menanggung akibat dengan semakin buruknya citra perusahaan keluarga ini di benak publik.
Sebaliknya perusahaan dengan reputasi positif akan senantiasa memperoleh tempat yang baik di benak publik. Untuk membangun, dan sekaligus memelihara serta mempertahankan reputasi positif sendiri bukan sesuatu yang mudah. Terlebih jika suatu isu telah berkembang menjadi semakin liar dan tak terkendali. Taruhlah misalnya kejadian kecelakaan yang menimpa pesawat Garuda di Yogyakarta beberapa tahun silam. Tindakan manajemen Garuda dinilai cukup cepat, dan tepat sehingga dapat membatasi isu publik untuk tidak berkembang menjadi bola panas yang dapat merusak reputasi Garuda yang saat itu sedang berusaha membangun citra positif menyusul larangan terbang ke beberapa negara di Eropa.
Singkatnya dengan adanya reputasi positif, suatu organisasi dapat dengan mudah mencapai apa yang menjadi tujuannya, entah yang berorientasi profit atau non profit. Kepercayaan publik terhadap suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh reputasi yang dimiliki organisasi tersebut.
Pada dasarnya reputasi adalah nama baik yang dinilai dari pihak eksternal dan internal. Menurut Gaotsi dan Wilson (2001), reputasi adalah evaluasi semua stakeholder terhadap organisasi sepanjang waktu yang didasarkan atas pengalaman stakeholder tersebut dengan organisasi.
Reputasi sendiri dapat dikatakan sebagai suatu harapan nilai yang dimiliki stakeholder mengenai suatu organisasi vis-a-vis rekan-rekan dan pesaing. Kebanyakan definisi reputasi fokus pada pengalaman. Untuk itu kita harus terlebih dahulu memahami dan mengelola ekspektasi dari stakeholders.
Stakeholder pertama menilai organisasi mengenai apakah relevan atau tidak dengan harapan nilai mereka dibandingkan dengan orang lain di kelompok yang sama atau kompetitif. Sementara stakeholder yang dipandang penting bagi organisasi biasanya  memiliki potensi untuk menciptakan, meningkatkan atau merusak nilai, baik secara langsung atau dengan orang lain.
Reputasi dengan demikian bisa dikatakan sebagai nilai kompetitif yang dirasakan merupakan kesenjangan antara perusahaan dalam memenuhi harapan stakeholder. Kesenjangan itu diyakini dapat membantu menentukan plafon harga, variasi nilai pasar antara pesaing, atau bahkan kemampuan satu perusahaan untuk menarik dan mempertahankan potensi terbaik, dan liputan media yang lebih baik, dll. Nilai yang dirasakan bersifat kompetitif dan karena itu tidak terbatas.
Sementara itu terdapat tiga faktor yang dapat memperkuat reputasi, diantaranya adalah :
Ø  Kemampuan berkomunikasi
Ø  Inovasi
Ø  Nilai Sumber Daya Manusia (SDM)
Pengelolaan reputasi atau Manajemen reputasi, oleh karena itu merupakan pengelolaan harapan stakeholders dalam rangka memaksimalkan nilai kompetitif yang dirasakan organisasi. Kemampuan dan keahlian komunikasi sendiri merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi reputasi. Jika strategi komunikasi yang digunakan tepat maka reputasi dapat semakin kuat dan positif.
Ada beberapa pendekatan dalam manajemen reputasi. Salah satunya mencangkup aspek-aspek berikut :
1.      Analisis reputasi, dilakukan untuk memahami stakeholder organisasi. Mengkaji stakeholder, mana yang mendukung dan mana yang mengkritik organisasi
2.      Perencanaan strategis, melihat lingkungan eksternal dan internal organisasi sehingga dapat mengidentifikasikan kekuatan, kelemahan,peluang dan ancaman pada organisasi (SWOT)
3.      Stakeholder Relations, menyusun rencana komunikasi dan relasi dalam konteks PR umumnya dan media relations khususnya
4.      Pemantauan media, kegiatan mengikuti berita di media, khususnya pemberitaan yang positif dan negatif bagi organisasi
5.      Pelatihan media, pelatihan staf PR agar para staf mengetahui apa yang dibutuhkan media massa dan bagaimana cara bekerja sama dengan media
6.      Materi komunikasi, pesan yang disampaikan pada media atau publik organisasi. Pesan itu dibuat dalam bentuk brosur, leaflet, situs web, media internal, teks pidato atau materi presentasi
7.      Media relations, ada dua sisi wujud relasi antara reputasi dan media relation, sisi pertama media relations yang baik akan menjadi sarana unuk menjaga dan meningkatkan reputasi. Sisi lain, reputasi akan mempermudah membangun media relations yang baik
8.      Government relations, pentingnya membangun relasi dengan pemerintah untuk menjaga reputasi organisasi
9.      Manajemen isu dan manajemen krisis, sebuah organisasi harus siap menghadapi isu dan krisis yang bisa datang sewaktu-waktu

Manajemen isu tampak jelas merupakan salah satu aspek penting dalam manajemen reputasi. Munculnya isu yang dapat mengancam reputasi organisasi pada dasarnya merupakan early warning atau peringatan dini bagi PR untuk segera mengelola isu (manajemen isu).
Karena itu manajemen issu sudah semestinya menjadi perhatian penting dari para pengambil keputusan berkaitan dengan strategi komunikasi. Jika reputasi sendiri berkaitan dengan penilaian dan harapan stakeholders terhadap organisasi. Maka manajemen isu_yang dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap hadirnya masalah atau konflik_dapat menjadi salah satu tindakan strategis untuk mengatasi kemungkinan terjadinya penurunan reputasi yang diakibatkan adanya konflik yang mempengaruhi penilaian dan harapan publik terhadap organisasi.
Berkaitan dengan reputasi, terdapat dua elemen mendasar dari public relation  berkaitan dengan manajemen isu:
l  Membangun reputasi dan hubungan
l  Melindungi reputasi dan hubungan.
Disadari atau tidak, manajemen isu yang kurang baik dapat berdampak terhadap reputasi perusahaan. Memelihara hubungan positif dengan stakeholder mungkin lebih penting daripada strategi krisis individu. Jelas bahwa hubungan yang negatif berdampak pada persepsi terhadap suatu organisasi selama krisis (Coombs & Holliday, 2001). Unsur-unsur seperti kepercayaan, keterbukaan, investasi dan komitmen telah diidentifikasi oleh para sarjana (Bruning & Ledringham, 1999; Bruning & Galloway, 2003) sebagai penting untuk membangun hubungan organisasi-stakeholder.
Manajemen isu dan resiko bersifat proaktif, dalam rangka membangun, mempertahankan, dan menjaga reputasi yang baik. Perusahaan ataupun organisasi memerlukan serangkaian kompetensi dasar yang saling berkaitan untuk mengelola sejumlah resiko reputasi, diantaranya :

l  Manajemen isu dan risiko strategis
l  Komunikasi pemasaran/merk yang efektif dan pengembangan pesan.
l  Pengembangan citra dan identitas korporat
l  Perencanaan manajemen krisis.
l  Inovasi dan komunikasi perubahan.
l  Keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan.
l  Etika dan peraturan / kepatuhan

Ada tiga manfaat yang dapat diperoleh perusahaan atau organisasi yang mengadopsi proses manajemen isu diantaranya (Baker):
1.      Mengembangkan reputasi yang lebih baik secara keseluruhan
2.      Mengembangkan reputasi yang lebih baik dari isu khusus
3.      Memiliki performa yang lebih baik secara finansial


B.     Proses Manajemen Krisis dan Pendekatan Manajemen Isu
Menurut Hainsworth (Regester & Larkin, 2003:47), isu biasanya berkembang dalam cara yang dapat diprediksi, bersumber dari tren atau peristiwa yang berkembang melalui suatu rangkaian tingkatan yang dapat diidentifikasi serta tidak berbeda dari siklus perkembangan sebuah produk. Karena evolusi atau perkembangan sebuah isu sering menghasilkan kebijakan publik, semakin dini suatu isu yang relevan diidentifikasi dan dikelola dalam rangka respon organisasional yang sistematis, semakin mungkin organisasi tersebut dapat mengatasi konflik serta meminimalisir implikasi biaya demi keuntungannya. Karena itulah, memahami siklus perkembangan isusangat penting.

Sedangkan trend (tren) menurut Howard Chase adalah perubahan yang terdeteksi yang mendahului isu.

Max Meng mengidentifikasi enam kelompok atau publik yang mungkin membuat isu: partner, asosiasi karyawan, masyarakat umum, pemerintah, media massa dan kelompok penekan/kelompok yang berkepentingan. Pengaruh mereka pada organisasi bervariasi dari mengontrol operasi perusahaan hingga membentuk koalisi internal dan eksternal untuk meningkatkan pengaruh potensial mereka atas sebuah isu. Jadi, ketika isu siap diambil keputusannya, respon organisasi dapat menjadi penting. Mengkategorikan isu kepada beberapa tipe: demografis, ekonomis, lingkungan, pemerintah, internasional, sikap publik, sumber daya, teknologis serta nilai dan gaya hidup.
Menurut Hainsworth, sebuah isu diciptakan sebagai sebuah ide yang memiliki dampak potensial pada beberapa organisasi atau publik yang mengakibatkan tindakan yang menyebabkan peningkatan kesadaran dan/atau reaksi pada bagian dari organisasi atau publik lainnya. Dalam sebuah model yang dikembangkan oleh Hainsworth & Meng (Regester & Larkin, 2003: 48), proses ini dapat digambarkan sebagai siklus yang terdiri dari empat tahap berikut: sumber, mediasi, organisasi dan resolusi.

1.         Tahap Origin (Potential stage)
Pada tahap ini, tidak ada isu yang jelas dan tampak, namun kondisi muncul tampak jelas. Dalam tahap ini, ada liputan media yang signifikan, namun masyarakat, stakeholders, regulator atau organisasi/perusahaan yang sedang mengalami hal ini tidak mendefinisikan masalah.
Pada tahap ini juga biasanya  seseorang atau kelompok mengekspresikan perhatiannya pada isu dan memberikan opini. Mereka juga melakukan tindakan tindakan tertentu berkaitan dengan isu yang dianggap penting. Ini adalah tahap penting yang menentukan apakah isu dapat kelola dengan baik atau tidak.  Public Relations mesti proaktif untuk memonitor (scanning) lingkungannya.



2.         Tahap Mediation dan Amplification
Pada tahap ini media, masyarakat, stakeholder atau industri dan regulator dapat dengan jelas mendefinisikan isu. Selain itu, pada tahap ini isu sudah mulai memberi tekanan kepada organisasi. Isu berkembang karena isu-isu tersebut telah mempunyai dukungan publik, yaitu ada kelompok-kelompok yang lain saling mendukung dan memberikan perhatian pada isu-isu tersebut. Menurut Regester & Larkin (2008), pada tahap ini sebenarnya oranisasi masih dapat menjaga agar isu tidak membesar. Tetapi, seringkali terjadi organisasi kesulitan karena saat mereka memperhatikan satu isu yang dianggap penting ternyata muncul isu susulan. Dalam hal ini, organisasi sebaiknya tidak terfokus pada satu isu tetapi juga memperhatikan isu-isu lainnya. Jika manajemen tidak mau isu berkembang semakin liat maka mereka harus mulai berupaya mengelola arus informasi dengan menyediakan informasi yang aktual, benar, berbasis data dan membuka saluran komunikasi dua arah. Tujuannya adalah agar isu tidak membesar melalui pemberitaan media, mumpung pada tahap ini pemberitaan media masih bersifat sporadic dan hanya dilakukan beberapa media saja.

3.        Tahap Organization (Current stage dan critical stage)
Ini merupakan tahap akut, dimana krisis sudah menyerang, dan organisasi tidak punya pilihan lain kecuali melakukan tindakan. Saat ini organisasi tidak bisa diam lagi. Pada tahap ini sudah mulai adanya kemarahan publik yang menuntut perubahan, pengawasan media dan keterlibatan regulasi. Stakeholder sangat menyadari perubahan, dan organisasi atau industri dalam krisis mengalami penurunan ekuitas merek  serta keuntungan yang signifikan. Meskipun ada banyak definisi mengenai krisis, namun secara garis besar dapat dikatakan bahwa Krisis adalah suatu peristiwa yang merupakan tak terduga, ancaman utama yang dapat memiliki efek negatif pada organisasi, industri atau stakeholder jika tidak ditangani dengan tepat. Karena itu dapat dikatakan tahapan ini juga merupakan tahap organisasi, karena pada tahap ini publik sudah mulai mengorganisasikan diri dan membentuk jaringan-jaringan. Isu berkembang menjadi lebih popular karena media massa memberitakannya berulang kali dengan eskalasi yang tinggi dan ditambah interaksi di media sosial dan jaringan. Akibatnya, isu menjadi diskusi publik dan bermunculan beberapa pemimpin opini publik. Mereka biasanya memberikan komentar-komentar yang mempengaruhi publik melalui media massa.
Sementara itu, critical stage terjadi bila publik mulai terbagi dalam dua kelompok, setuju dan menentang. Menurut Hainsworth, tahap ini dapat disebut tahap krisis. Masing-masing pihak berupaya mempengaruhi pengambil kebijakan untuk semakin terlibat, sebagai penengah/pemecah masalah yang lebih memihak pada kelompok tertentu. Dalam situasi ini, media massa memegang peran penting karena kemampuannya dalam diseminasi pesan dan pembentuk opini. Karena itu Public Relations diharapkan memberikan informasi yang jelas, terbuka, dan jujur kepada media massa dan diharapkan membangun relasi yang baik dengan media untuk memperoleh publisitas positif.

4.        Tahap Resolution (dormant stage)
Pada tahap ini, organisasi sudah mulai dapat mengatasi isu dengan baik, sehingga isu diasumsikan telah berakhir sampai seseorang memunculkan kembali dengan pemikiran dan persoalan baru atau muncul isu baru yang ternyata mempunyai keterkaitan dengan isu sebelumnya atau pada waktu peringatan saat isu mulai muncul pertama kali. Pada titik ini konflik yang muncul dari krisis akan berhenti di media dan regulator. Umumnya pada kondisi ini organisasi telah  melakukan perubahan perubahan. Dengan kata lain Setelah krisis mereda, krisis akan bergerak ke tahap tidur (mati suri), yang merupakan akhir dari siklus dari sebuah isu. Namun kondisi-kondisi diatas dapat memunculkan isu yang sama kembali jika masih terdapat ketidakpuasan pada publik.






BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Manajemen isu tampak jelas merupakan salah satu aspek penting dalam manajemen reputasi. Munculnya isu yang dapat mengancam reputasi organisasi pada dasarnya merupakan early warning atau peringatan dini bagi PR untuk segera mengelola isu (manajemen isu).
Karena itu manajemen issu sudah semestinya menjadi perhatian penting dari para pengambil keputusan berkaitan dengan strategi komunikasi. Jika reputasi sendiri berkaitan dengan penilaian dan harapan stakeholders terhadap organisasi. Maka manajemen isu_yang dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap hadirnya masalah atau konflik_dapat menjadi salah satu tindakan strategis untuk mengatasi kemungkinan terjadinya penurunan reputasi yang diakibatkan adanya konflik yang mempengaruhi penilaian dan harapan publik terhadap organisasi.